A S T A C O D E

Loading

Agile vs Waterfall di 2025: Mana yang Lebih Relevan untuk Klien Enterprise?
Insight

Agile vs Waterfall di 2025: Mana yang Lebih Relevan untuk Klien Enterprise?

Admin

Author

Jul 05, 2026

Published

67

Views

Agile vs Waterfall di 2025: Mana yang Lebih Relevan untuk Klien Enterprise?

Agile vs Waterfall: Mana yang Cocok untuk Enterprise?

Memilih metodologi pengembangan software untuk proyek enterprise tidak selalu sederhana. Setelah lebih dari dua dekade penggunaan Agile, banyak organisasi mulai mengevaluasi kembali apakah penerapan Agile benar-benar memberikan nilai atau hanya menjadi serangkaian ritual. Di sisi lain, pendekatan yang lebih terstruktur seperti Waterfall kembali mendapat perhatian untuk kebutuhan tertentu.

State of Agile 2025

Setelah lama menjadi pendekatan populer dalam pengembangan software, Agile menghadapi evaluasi dari berbagai organisasi. Beberapa tim merasa implementasinya menjadi terlalu ceremonial, seperti Scrum meeting, sprint planning, dan retrospective yang dilakukan rutin tetapi tidak selalu menghasilkan nilai yang jelas.

Masalah tersebut bukan berarti Agile tidak efektif, tetapi menunjukkan bahwa penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan karakteristik proyek.

Kritik terhadap Agile

Agile juga memiliki beberapa tantangan, terutama pada organisasi enterprise. Terlalu banyak meeting dapat menyebabkan "death by meeting", sementara perubahan requirement yang terus-menerus dapat memicu scope creep.

Selain itu, perencanaan budget dan timeline jangka panjang bisa menjadi lebih sulit ketika kebutuhan proyek sering berubah. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan yang memiliki target, regulasi, dan komitmen bisnis yang harus direncanakan jauh sebelumnya.

Kebangkitan Waterfall?

Di tengah evaluasi terhadap Agile, pendekatan yang lebih terstruktur kembali mendapat perhatian. Beberapa organisasi teknologi menggunakan pendekatan dengan siklus kerja dan scope yang lebih terkontrol.

Contohnya adalah Shape Up dari Basecamp/37signals yang menggunakan siklus kerja enam minggu dengan scope yang lebih terdefinisi. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa prinsip perencanaan yang terstruktur masih memiliki tempat dalam pengembangan software modern.

Hybrid Approach

Untuk banyak perusahaan enterprise, pilihan terbaik tidak selalu Agile atau Waterfall secara murni. Pendekatan hybrid dapat menggabungkan fleksibilitas Agile dalam proses development dengan struktur Waterfall dalam planning dan governance.

Framework seperti SAFe, LeSS, maupun pendekatan yang terinspirasi dari Spotify Model juga mencoba mengatur proses Agile pada organisasi dengan skala yang lebih besar.

Kesimpulan

Tidak ada metodologi yang berlaku universal untuk setiap proyek. Agile maupun Waterfall memiliki tempat masing-masing, tergantung kebutuhan, tingkat perubahan requirement, kompleksitas, serta cara kerja tim dan klien. Yang paling penting bukan sekadar mengikuti metodologi, tetapi memastikan proses yang dipilih benar-benar memberikan nilai dan dijalankan secara konsisten.

Agile vs Waterfall di 2025: Mana yang Lebih Relevan untuk Klien Enterprise?

Looking for a professional partner?

Let's discuss how we can help your business grow with our technology solutions.

Chat with us